Saat mata tak menatapmu secara dalam maka izinkan aku memberikan segala sukmaku kepadamu.
Terbilang sebulan sudah hati ku mencari mu yg telah kehilangan satu jati diri.
Adakah keraguan atau bahkan kebimbangan sehingga kau tak mampu membaca nya ketika diam mu?
ketika ini, aku yg bersandarkan sepi memuja kopi hangat untuk menjadikanmu utuh di hari-hari ku.
Terbilang sebulan tanpa ada sebuah rancangan, maka aku sebutkan kau adalah sebuah ketidaksengajaanku untuk ku sendiri.
Perih kala waktu menderingkan kepercayaan nya untuk memanggilku harus balik pada kenyataan ku yg sebenarnya.
Ha ha ha aku fikir ini adalah sebuah kebetulan yg tidak disengaja lalu ku konsumsi untuk pribadiku yg sedang sepi.
Duhai waktu.. jika kau menceritakan kepahitanmu dalam pahit yg sudah tercipta dari ribuan tahun yang lalu. Maka kepahitanku ini adalah apa.
Terbilang sebulan lah, aku merasakanmu di balik setiap sajak sajak ku yang hilang.
Hallo Leser
dibaca ya silahkan gak bayar kok gratis ;)
Kamis, 07 September 2017
Senin, 09 Mei 2016
Penat yg Pekat
Duhai malam, singgahkan aku dengannya. Apa yg terlintas di fikiranku semoga tak terlintas di fikirannya juga.
Wahai malam, izinkan aku untuk berjalan ikhlas.
Sungguh waktu, aku menunggu ilham-mu untuk menarikku lari dari kecemasan ini.
Begitu hancur sudah. Bukan lagi harapan, bahkan khayalanku pun tidak mampu datang menyergapi kesemangatanku hari ini.
Tidak bisa kah kau diam memandang ku, se akan akan besok adalah hari terakhir kita untuk perjumpaan abadi?
Aku, tak menanti siapapun. Aku pun begitu sombong tak menanti kebahagiaan. Karena aku begitu hapal setiap jengkalnya rasa kesedihan. Hahaha munafik bagi setiap insan tak ingin bahagia, tapi bagiku aku bersyukur aku dapat menulis lagi sajak sajak ku yg hilang karena aku menikmati juga setiap sudutnya rasa kesedihan. Aku tak begitu fanatik untuk memuja tuhan lalu bersujud dan menangis diatas sajadahnya. Aku tak sempat bercerita kepada siapapun tentang Aku, kecemasanku, kepenatanku, kesedihanku. Dan Aku juga tak tahu menau lagi bagaimana aku menikmata setiap proses untuk berdiri tegak. Bagaimana pun, aku harus bisa meninggalkan sejuta kepenatanku, meninggalkan semua rasa kecemasanku. Dan bagaimanapun aku harus meninggalkan kota kelahiranku. Terima kasih sajak sajak ku.
Wahai malam, izinkan aku untuk berjalan ikhlas.
Sungguh waktu, aku menunggu ilham-mu untuk menarikku lari dari kecemasan ini.
Begitu hancur sudah. Bukan lagi harapan, bahkan khayalanku pun tidak mampu datang menyergapi kesemangatanku hari ini.
Tidak bisa kah kau diam memandang ku, se akan akan besok adalah hari terakhir kita untuk perjumpaan abadi?
Aku, tak menanti siapapun. Aku pun begitu sombong tak menanti kebahagiaan. Karena aku begitu hapal setiap jengkalnya rasa kesedihan. Hahaha munafik bagi setiap insan tak ingin bahagia, tapi bagiku aku bersyukur aku dapat menulis lagi sajak sajak ku yg hilang karena aku menikmati juga setiap sudutnya rasa kesedihan. Aku tak begitu fanatik untuk memuja tuhan lalu bersujud dan menangis diatas sajadahnya. Aku tak sempat bercerita kepada siapapun tentang Aku, kecemasanku, kepenatanku, kesedihanku. Dan Aku juga tak tahu menau lagi bagaimana aku menikmata setiap proses untuk berdiri tegak. Bagaimana pun, aku harus bisa meninggalkan sejuta kepenatanku, meninggalkan semua rasa kecemasanku. Dan bagaimanapun aku harus meninggalkan kota kelahiranku. Terima kasih sajak sajak ku.
Jumat, 08 April 2016
Gula atau Kopi, Manis atau Pahit
Aku rasa pagi ini adalah pagi terburuk yg pernah terjalani.
Hari ini aku merasakan hal yg berbeda.
Aku hanya merasakan cinta dari kejauhan.
Aku tak pernah sadar bahwa cinta tak pernah ku genggam.
Aku bisa merasakan nya pagi ini.
Agak sedikit berbeda memang, tapi aku tak salah pilih. Aku memilih kopi untuk menemaniku pagi ini.
Tapi, tak sedikitpun kopi dapat memaniskan perasaanku yg sedang kacau.
Semakin ku seruput makan semakin pahit.
Tak buang dengan mu. Sayang, kini kau tak lagi disampingku. Tak seperti pagi-pagi di hari kemarin.
Sayangg,,, kini kau tlah bahagia dengan perempuan yg bagiku begitu jahat.
Hari ini aku merasakan hal yg berbeda.
Aku hanya merasakan cinta dari kejauhan.
Aku tak pernah sadar bahwa cinta tak pernah ku genggam.
Aku bisa merasakan nya pagi ini.
Agak sedikit berbeda memang, tapi aku tak salah pilih. Aku memilih kopi untuk menemaniku pagi ini.
Tapi, tak sedikitpun kopi dapat memaniskan perasaanku yg sedang kacau.
Semakin ku seruput makan semakin pahit.
Tak buang dengan mu. Sayang, kini kau tak lagi disampingku. Tak seperti pagi-pagi di hari kemarin.
Sayangg,,, kini kau tlah bahagia dengan perempuan yg bagiku begitu jahat.
Kamis, 10 Maret 2016
Telingaku
Entah kenapa seketika jantung ku berhenti. Seperti menyuruhku untuk memikirkan sesuatu, entah mengapa mimpi mimpiku seakan terjawab untuk menyuruhku bangun dari tidurku. Ya menyuruhku untuk membuka mata bahwa mimpiku kini telah didepan mataku. Ahh..lagi dan lagi waktu terus saja mengintaiku dan memberi jawabnya yg indah. Angin begitu cerah seakan mendorongku untuk menoleh keluar. Sekali dua kali aku sempat putus asa, yg ketiga waktu memberikan aku kesempatan untuk melihat telingaku kembali. Aku tahu aku dekat dengat telinga ku, namun sayang aku hanya bisa melihatnya ketika aku berkaca utuh sebadan sendirian.
Rabu, 24 Februari 2016
Peng-Aku-an
Tatkala angin yg meneduhkan perasaan ku menjadi tenang, tatkala angin juga yg mampu menyemarakkan api yg ada di dalam tubuhku. Seperti itulah dirimu yg mampu mengendalikan ku ingin menjadi apa saja yg kau mau, tidak begitu pula dengan aku. Kini aku tahu siapa yg tak bisa menerima segala kekurangan kita bersama. Bak seorang Pejabat yg berkoar-koar atas sumpah janji nya di atas podium namun itu semua Sampah. Pergilah sejauh mana kau mampu, kembalilah jika kau amat sangan tau apa Hakikat Sebuah Rumah!
Selasa, 22 Desember 2015
million miles
kau tahu, hari itu adalah hari ku yang paling berantakan. untung saja pada saat itu aku mengenakan jaket yang lumayan menghangatkan ku dari kedinginan kejimu. terasa sesak melihatnya, sejenak terlintas sebait lyric "WHEN YOU TRY THE BEST BUT YOU DON'T SUCCED" ya, ketika aku melakukan yg terbaik tapi gagal. pada saat itu aku sama sekali seperti tak berguna di sampingmu. entahlah, entah kepada siapa ingin ku ceritakan semua rasa kecewa ku. semua terasa percuma. percuma untuk semua yg kulakukan. aku memang payah. tinggalkan aku sendiri disini.
Rabu, 04 November 2015
Hujan
Wahai hujan.. tatkala kau mengajari aku rindu sesungguhnya. Betapa mencekiknya diriku mengingat masa lampau yg tak kunjung berhenti menghantui ku.
Hujan.. hantarkan aku pada kenangan itu, kenangan dimana tak lagi dapat aku rasa bahkan aku sentuh. Terima kasih hujan, bahwa kini aku rindu mereka saudara-saudaraku.
Hujan.. hantarkan aku pada kenangan itu, kenangan dimana tak lagi dapat aku rasa bahkan aku sentuh. Terima kasih hujan, bahwa kini aku rindu mereka saudara-saudaraku.
Langganan:
Postingan (Atom)