Saat mata tak menatapmu secara dalam maka izinkan aku memberikan segala sukmaku kepadamu.
Terbilang sebulan sudah hati ku mencari mu yg telah kehilangan satu jati diri.
Adakah keraguan atau bahkan kebimbangan sehingga kau tak mampu membaca nya ketika diam mu?
ketika ini, aku yg bersandarkan sepi memuja kopi hangat untuk menjadikanmu utuh di hari-hari ku.
Terbilang sebulan tanpa ada sebuah rancangan, maka aku sebutkan kau adalah sebuah ketidaksengajaanku untuk ku sendiri.
Perih kala waktu menderingkan kepercayaan nya untuk memanggilku harus balik pada kenyataan ku yg sebenarnya.
Ha ha ha aku fikir ini adalah sebuah kebetulan yg tidak disengaja lalu ku konsumsi untuk pribadiku yg sedang sepi.
Duhai waktu.. jika kau menceritakan kepahitanmu dalam pahit yg sudah tercipta dari ribuan tahun yang lalu. Maka kepahitanku ini adalah apa.
Terbilang sebulan lah, aku merasakanmu di balik setiap sajak sajak ku yang hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar