Duhai malam, singgahkan aku dengannya. Apa yg terlintas di fikiranku semoga tak terlintas di fikirannya juga.
Wahai malam, izinkan aku untuk berjalan ikhlas.
Sungguh waktu, aku menunggu ilham-mu untuk menarikku lari dari kecemasan ini.
Begitu hancur sudah. Bukan lagi harapan, bahkan khayalanku pun tidak mampu datang menyergapi kesemangatanku hari ini.
Tidak bisa kah kau diam memandang ku, se akan akan besok adalah hari terakhir kita untuk perjumpaan abadi?
Aku, tak menanti siapapun. Aku pun begitu sombong tak menanti kebahagiaan. Karena aku begitu hapal setiap jengkalnya rasa kesedihan. Hahaha munafik bagi setiap insan tak ingin bahagia, tapi bagiku aku bersyukur aku dapat menulis lagi sajak sajak ku yg hilang karena aku menikmati juga setiap sudutnya rasa kesedihan. Aku tak begitu fanatik untuk memuja tuhan lalu bersujud dan menangis diatas sajadahnya. Aku tak sempat bercerita kepada siapapun tentang Aku, kecemasanku, kepenatanku, kesedihanku. Dan Aku juga tak tahu menau lagi bagaimana aku menikmata setiap proses untuk berdiri tegak. Bagaimana pun, aku harus bisa meninggalkan sejuta kepenatanku, meninggalkan semua rasa kecemasanku. Dan bagaimanapun aku harus meninggalkan kota kelahiranku. Terima kasih sajak sajak ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar